Pedoman Islam dan Karantina Modern saat ini

Para ahli mengatakan pedoman Islam tentang epidemi yang merujuk ke zaman Nabi Muhammad sallahu alayhi wasallam dapat membantu banyak orang mengatasi Covid-19. Kembali ke tahap awal kemunculan peradaban mengenai aturan Islam tentang epidemi untuk melindungi banyak orang dari kematian dan penyakit.

Dalam banyak kesempatan, Nabi Muhammad senantiasa menasehati para sahabatnya untuk menghargai nyawa dan hidup mereka sebagai hal yang terpenting sebelum ajal tiba. Dalam banyak hadits, Nabi mendesak orang-orang untuk menjauh dari tempat-tempat di mana ada epidemi.

Seorang profesor ilahiyat di Universitas Uludag mengatakan “Nabi kita berbicara tentang konsep karantina ratusan tahun yang lalu,”

\”….Bila terdengar ada wabah di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan bila terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu. (HR. Bukhari)

Hadits ini merujuk pada prinsip karantina modern yang saat ini dipraktikkan banyak negara di dunia yang dilanda Covid-19. Ketika wabah Covid-19 semakin harinya terus membunuh puluhan ribu orang di seluruh dunia, nasihat Nabi Muhammad tentang bagaimana menanggapi pandemi menawarkan solusi kepada orang-orang untuk tetap diam di rumah masing-masing dan melindungi diri dari virus yang mematikan.

Apa Pedoman Islam dalam menghadapi Wabah?

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, umat Islam juga mencoba untuk mempraktikkan apa yang dinasihatkan oleh Nabi untuk mereka lakukan pada saat terjadi epidemi.

Ketika salah satu pasukan Muslim mendekati wilayah Syam yang sedang dilanda wabah penyakit para komandan jatuh ke dalam kebingungan tentang apa yang harus dilakukan. Kemudian, beliau secara pribadi berangkat ke lokasi untuk bertemu dengan komandan untuk membahas situasi.

Abu Ubaidah yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Syam memberitahu Umar bahwa wilayah Syam sedang terjadi wabah penyakit. Mendapat kabar tersebut Umar memutuskan berhenti di Saragh. Ketika perselisihan berlanjut, beliau berkonsultasi dengan beragam penasihat untuk mencapai keputusan akhir.

Akhirnya, ia memutuskan untuk menjauh dari wabah.

Khalifah Umar sepakat dan kembali ke Madinah. \”Aku akan kembali besok pagi (ke Madinah) mengendarai tungganganku, maka kalian pun berangkat besok pagi mengendarai tunggangan kalian,\” kata Umar.

Abu Ubaidah yang merupakan salah satu sahabat terbaik Umar tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. \”Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?\” kata Abu Ubaidah.

Lalu Umar menjawab dengan jawabannya yang terkenal, \”Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.\”

Nabi Muhammad tidak menyukai orang yang menginginkan kematian sebelum waktunya tiba dalam kondisi apapun.

“Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya.\” (HR. Bukhari)

1+
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *